Rabu, 05 Agustus 2015

KEISTIMEWAAN BATU MULIA DARI SURGA HAJAR ASWAD

KEISTIMEWAAN BATU MULIA DARI SURGA “HAJAR ASWAD”

Banyak riwayat yang menekankan keutamaan hajar aswad dan dianjurkan untuk menyentuh dan menciumnya saat thawaf. Dan cukuplah menjadi keutamaanya, bahwa Nabi Saw. Penuh menyentuh dengan tanggannya yang lembut dan mencium dengan bibirnya dengan mulia.Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Saw. bersabda, “ Hajar Aswad itu diturunkan dari surga , warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu adamlah yang menjadikannya hitam.”
Dalam fiiqh, mencium Hajar Aswad disebut dengan istilam. Secara terminology, istilam diartikan sebagai salah satu bentuk ibadah yang diajarkan ketika melakukan ibadah haji yang dilaksankan dengan cara sesuai dengan kondisi haji yang melakukannya, yaitu : Bagi jamaah haji yang tidak bias meletakkan kedua pipinya diatas Hajar Aswad, cukup dengan mencium saja dan menundukkan kepala kepadanya sebagaimana isyarat penghormatan. Hal ini dipahami dari riwayat yang diterima dari Ibnu Abbas Ra. Sebagai berikt “ Ibnu Abbas mencium hajar aswad dan menundukkan kepala kepadanya.” (HR.Al-Hakim dan Muslim)
Bagi jamaah haji yang tidak sanggup melaksanakannya dengan cara-cara yang disebut diatas, cukup dengan melampaikan tangan ke arahnya lalu mengecup tangan sambil berjalan  dan membaca takbir. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadits berikut :”sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Dalam hadist berikut : “sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Berkata kepada Umar, “ Hai Umar, engkau adalah yang kuat. Jangan engkau berdesak-desakan untuk mendekati Hajar  Aswad lalau kamu menyakiti yang lemah. Jika kamu memperoleh kesempatan, maka ciumlah Hajar Aswad itu. Jika tidak, cukup dengan takbir dan terus berjalan.”  (HR. AL-SYAFI’I)
Bagi jamaah haji yang memperoleh kesempatan untuk mendekati Hajar Aswad dapat melakukannya dengan cara mencium dan meletakkan kedua pipi di atasnya. Hal ini diterangkan dalam satu riwayat yang diterima dari Ibnu Umar yang mengatakan sebagai berikut : “Rasulullah Saw. Mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya kemudian ia meletakkan kedua pipinya (diatas batu) sambil menangis. Kemudian beliau berkata, “ Di sinilah ditumpahkan banyak air mata”. (HR. Al-Hakim)
Bagi jamaah haji yang tidak memiliki kesempatan dapat melakukannya dengan cara mengusapnya dengan tangan, kemudian mencium tanganmya berkata ‘ Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku melihat Rasulullah melakukannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi jamaah haji yang tidak sempat menciumnya, cukup dengan cara mengusapkan tongkat dan kemudian mencium tongkatnya. Seperti yang diterangkan dalam riwayat dari Abi Thufail yang berkata ; “ Aku melihat Rasulullah thawaf di Baitullah dan mengusap Hajar Aswad dengan tongkatnya, kemudian menciumtongkatnya . (HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar