KEISTIMEWAAN BATU MULIA DARI SURGA “HAJAR ASWAD”
Banyak
riwayat yang menekankan keutamaan hajar aswad dan dianjurkan untuk menyentuh
dan menciumnya saat thawaf. Dan cukuplah menjadi keutamaanya, bahwa Nabi Saw.
Penuh menyentuh dengan tanggannya yang lembut dan mencium dengan bibirnya
dengan mulia.Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Saw. bersabda, “ Hajar Aswad
itu diturunkan dari surga , warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa
anak cucu adamlah yang menjadikannya hitam.”
Dalam
fiiqh, mencium Hajar Aswad disebut dengan istilam. Secara terminology, istilam
diartikan sebagai salah satu bentuk ibadah yang diajarkan ketika melakukan
ibadah haji yang dilaksankan dengan cara sesuai dengan kondisi haji yang
melakukannya, yaitu : Bagi jamaah haji yang tidak bias meletakkan kedua pipinya
diatas Hajar Aswad, cukup dengan mencium saja dan menundukkan kepala kepadanya
sebagaimana isyarat penghormatan. Hal ini dipahami dari riwayat yang diterima
dari Ibnu Abbas Ra. Sebagai berikt “ Ibnu Abbas mencium hajar aswad dan
menundukkan kepala kepadanya.” (HR.Al-Hakim
dan Muslim)
Bagi
jamaah haji yang tidak sanggup melaksanakannya dengan cara-cara yang disebut
diatas, cukup dengan melampaikan tangan ke arahnya lalu mengecup tangan sambil
berjalan dan membaca takbir. Hal ini
dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadits berikut :”sesungguhnya Nabi
Muhammad Saw. Dalam hadist berikut : “sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Berkata kepada
Umar, “ Hai Umar, engkau adalah yang kuat. Jangan engkau berdesak-desakan untuk
mendekati Hajar Aswad lalau kamu
menyakiti yang lemah. Jika kamu memperoleh kesempatan, maka ciumlah Hajar Aswad
itu. Jika tidak, cukup dengan takbir dan terus berjalan.” (HR.
AL-SYAFI’I)
Bagi
jamaah haji yang memperoleh kesempatan untuk mendekati Hajar Aswad dapat
melakukannya dengan cara mencium dan meletakkan kedua pipi di atasnya. Hal ini
diterangkan dalam satu riwayat yang diterima dari Ibnu Umar yang mengatakan
sebagai berikut : “Rasulullah Saw. Mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya
kemudian ia meletakkan kedua pipinya (diatas batu) sambil menangis. Kemudian beliau
berkata, “ Di sinilah ditumpahkan banyak air mata”. (HR. Al-Hakim)
Bagi
jamaah haji yang tidak memiliki kesempatan dapat melakukannya dengan cara
mengusapnya dengan tangan, kemudian mencium tanganmya berkata ‘ Aku tidak
pernah meninggalkannya sejak aku melihat Rasulullah melakukannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi
jamaah haji yang tidak sempat menciumnya, cukup dengan cara mengusapkan tongkat
dan kemudian mencium tongkatnya. Seperti yang diterangkan dalam riwayat dari
Abi Thufail yang berkata ; “ Aku melihat Rasulullah thawaf di Baitullah dan
mengusap Hajar Aswad dengan tongkatnya, kemudian menciumtongkatnya . (HR. Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar